Selasa, 04 September 2018
Ulangan Harian BMR Asas dan Jatidiri Kelas XI
Ulangan Harian BMR Asas dan Jatidiri Kelas XI, Kerjakan Disini
Rabu, 29 Agustus 2018
Senin, 27 Agustus 2018
Ragam Dialek Melayu Riau
Yukkk Kenali Ragamnya Dialek Bahasa Melayu Riau, Ini Lengkapnya...
Riau One.com- Bahasa merupakan ciri khas budaya dan menunjukkan jati
diri suatu bangsa. Bahasa melayu merupakan bahasa ibu yang berasal dari
Nusantara tercinta kita ini. Dari sini lah bahasa melayu tersebut terus
berkembang sesuai dengan sub-sub dialek lokal yang ada di Nusantara
Jumlah penutur bahasa Melayu di Indonesia sangat banyak, bahkan dari
segi jumlah sebetulnya melampaui jumlah penutur Bahasa Melayu di
Malaysia, maupun di Brunei Darussalam.
Bahasa Melayu dituturkan mulai sepanjang pantai timur Sumatera,
Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Jambi, Sumatera Selatan,
Bengkulu hingga pesisir Pulau Kalimantan dan kota Negara, Bali.
Riau merupakan negeri pusat perkembangannya budaya dan sastra melayu.
Dari negeri inilah berkembang bahasa melayu yang merupakan pokok dari
bahasa-bahasa negeri-negeri di Nusantara. Sebut saja Indonesia,
Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam dan negeri-negeri lainnya.
Perkembangan bahasa dan sastra melayu mencapai puncak kejayaannya pada
masa kerajaan Riau-Lingga yang diangkat dan dikembangkan oleh Raja Ali
Haji di Pulau Penyengat. Dari Pulau Penyengat lah bahasa melayu itu
menjadi gemilang di negeri Nusantara.
Negeri berbudaya melayu membuat orang sering menjadi penasaran akan ke
khas annya. Salah satunya ialah bahasa melayu. Lalu bagaimanakah bahasa
dan dialeg melayu di Riau sendiri?
Dalam jurnal kali ini saya akan membahasa secara umum mengenai bahasa
melayu yang berkembang di provinsi Riau dan Kepulauan Riau.
PROVINSI RIAU DAN KEPULAUAN RIAU
Bahasa melayu Riau ada sejak dahulu kala, perkembangannya semakin
cemerlang mana kala dibukanya ada banyaknya bandar-bandar baru di negeri
ini seiring berkembangnya kerajaan-kerajaan melayu yang terdapat di
negeri ini. Seperti Kerajaan Siak, Kerajaan Pekan Tua, Kerajaan
Pelalawan, Kerjaan Indragiri, Kerajaan Kandis, Kerajaan Rokan, Kerjaan
Kampar, Gunung Sahilan, Kuntu Darussalam, dan lain-lain.
Pada hakikatnya, pengucapan Bahasa melayu Riau sama dengan bahasa
Indonesia sekarang. Masyarakat,para cendekiawan, tokoh, raja ataupun
sultan yang memerintah negeri ini pun juga demikian.
Misalnya :
Daulat Tuanku
Kamu hendak kemana?
Hamba hendak pergi ke seberang
Saya nak pergi ke Pekan
Apabila banyak berkata-kata, disitulah jalan masuk dusta
Sehingga lafal, dialeg yang digunakan disini ialah benar-benar lafal yang sebenarnya, dan tentunya menggunakan loghat melayu.
Dialeg Melayu Riau dengan bahasa pergaulan dalam masyarakat sama dengan
dialek Johor-Riau kini menjadi asas kepada pembentukan Bahasa Melayu
standard di Malaysia. Ciri utama dialek ini adalah akhiran ‘a’ yang
dibunyikan sebagai ‘Ä›’. Seperti contoh:
Saya - disebut sayÄ›
Apa – disebut ApÄ›
Berapa – disebut BerapÄ›
Bagaimanapun akhiran ‘a’ untuk kata-kata yang diadotasi dari perkataan Indonesia dikekalkan seperti sebutan asal :
Anda – disebut anda
Merdeka - disebut Merdeka
bunyi akhiran ‘r’ tergugur pada kata-kata seperti berikut:
Besar - disebut Besa (dengan sebutan a yang betul)
lebar - disebut Leba (dengan sebutan a yang betul)
sabar - disebut Saba (dengan sebutan a yang betul)
Bunyi ‘o’ diguna menggantikan kata-kata yang berakhir dengan sebutan ‘ur”
Tidur – disebut Tido
Telur – disebut Telo
Pengguguran bunyi ‘r’ ditengah kata sebelum huruf konsonen seperti berikut:
Kerja - disebut Keja (a menjadi sebutan Ä›)
Pergi - disebut Pegi
Berjalan - disebut Bejalan
Bagaimanapun terdapat viarasi kecil di dalam dialek ini mengikut
kawaan-kawasan tertentu. Di Provinsi Riau (Riau daratan) bahasa melayu
Riau dapat dibedakan menjadi dialeg Riau pesisir dan dialeg Riau
pedalaman.
Perlu diketahui, bahasa melayu di riau daratan sebetulnya tidak kenal
dengan kata "dang" atau "do".. misal : "wuiih,, mantap dang!" atau
"Bukunya gak ada do..."
kata-kata tersebut berasala dari bahasa minang yang dibawa oleh para
perantau minang ke Riau. Sehingga kata-kata itu ikut terserap di dalam
bahasa masyarakat dan generasi mudanya.
Dialeg Riau Pesisir
Bahasa melayu Riau pesisir atau Riau bahagian hilir berkembang sangat
mirip dengan bahasa melayu Riau kepulauan dan semenanjung atau dilage
loghat melayu Riau utama seperti yang saya bahas diatas. Dimana loghat
dan dialeg kata-kata yang berakhiran 'a' menjadi 'e' lemah.
Misal contoh gampang sejagad raya :D
Bahasa Indonesia : Kamu hendak pergi kemana?
Bahasa melayu Riau : awak anak pergi kemana (dibaca : awak nak pegi kemane?)
Bahasa Indonesia : saya mau pergi jalan-jalan ke kota, tak sabar rasanya
Bahasa melayu Riau : saya nak pergi jalan ke kota ( dibaca :saye nak pegi ke kote)
Bahasa Indonesia : "Harus kutonton tuh film! Gak sabar rasanya!"
Bahasa melayu Riau : "Mestilah kutonton film itu! Tak sabarpon rasanye "
Bahasa Riau yang kental dengan melayu nya dan menjadi standar bahasa-bahasa di negeri semenanjung ini dapat anda jumpai di :
Bengkalis dan Kepulauan Meranti (Bengkalis, Selat Panjang, Bukit Batu)
Di Bengkalis merupakan urat nadi daripada perkembangan tradisi dan
bahasa melayu di Riau. Dialeg nya kental seperti bahasa melayu
Riau-Johor.
Contoh nama-nama daerah yang ada di Kabupaten Bengkalis :
buket batu, paret rodi, mangkopot, sungai pakneng, lubok alam, ae
puteh, ketam puteh, penampi. disana masih asli bahasanya. mirip sama
melayu yang di malaka malah.
Namun di beberapa tempat terutama daerah pasar, dialeg melayu Bengkalis
pun kita jumpai sedikit perbedaan, dimana kata halus yang berakhiran
'e' lemah menjadi 'o'.
contoh :
Saya - disebut sayÄ› disebut juga sayo
Apa – disebut ApÄ› disebut juga apo
Berapa– disebut BerapÄ› disebut juga berapo
Bunga - BungÄ› disebut juga bungo
Yah kurang lebih mirip bahasa melayu Riau pedalaman. Kuat dugaan saya
ini terjadi akibat akulturasi di tanah Bengkalis,apakah itu dari Riau
pedalaman, bahasa Sumatera (ex : minang, jambi, Palembang, dll.).
Pemakai dialeg ini biasanya para pedagang dan muda-mudi nya. Sementara
bagi yang tua - tua masih asli kental dengan 'e' lemah.
Di Bengkalis, dialeg dan bahasa melayu juga dipengaruhi sedikit oleh
Bugis , karena masyarakat Bugis juga yang umumnya perantau juga banyak
bermukin di Bengkalis.
Namun , pemandangan tradisi dan bahasa ini akan berbeda bila kita
berada di Duri ataupun daerah-daerah poros Pekanbaru-Duri-Dumai. Daerah
di sekitaran itu merupakan kawasan urban. Di situ memang bilangan orang
Melayu nya udah OUTNUMBER. Kalau mau mendengar dialek asli melayu di
kawasan Duri, Mandau ataupun poros Pekabaru-Duri-Dumai, komunitasnya
terlalu terbatas ke perkampungan tertentu dan tentu saja kantor-kantor
pemerintahan.
Rokan Hilir
Di Rokan Hilir hampir sama dengan di Bengkalis, bahasa melayunya kental
mirip dengan bahasa melayu Johor - Riau - Lingga. Namun juga tak
sedikit yang kata-katanya berakhiran dengan 'o' seperti halnya bahasa
Riau Pedalaman (Kampar dan Rokan Hulu). Asumsi saya ,mungkin dialeg ini
dipergunakan oleh masyarakat Rokan Hilir yang wilayahnya dekat atau
berbatasan langsung dengan Rokan Hulu
Seperti :
Orang - Uyang
Tidak hendak - Tak ondak
Berlayar - Belaya
Beli - Boli
Barang - Ba ang
Jemur - Jemor
Rumah - Umah
Cukup - Cukuik
Lihat - Tengok
Esok - Isok
Selain dipengaruhi oleh bahasa melayu Riau pedalaman, Rokan Hilir juga
dipengaruhi sedikit oleh bahasa melayu deli, batak dan pesisir timur.
Siak
Sama dengan Bahasa melayu di Bengkalis, selain banyak terdapat
kata-kata berakhiran 'e' lemah juga cukup banyak kata-kata yang
berakhiran 'o'. Di Siak juga pernah ada kerajaan Siak yang merupakan
kerajaan melayu islam terbesar di Sumatera yang turut andil dalam
mengembangkan tradisi, adat-isitadat, budaya dan bahasa melayu secara
luas keseluruh pelosok-pelosok negeri-negeri yang di bawah naungan
kerajaan Siak, seperti Siak,Bengkalis, Rokan, Pekanbaru, dan Kampar.
Kalau di Bengkalis dan Siak juga terdapat perubahan kata-kata sapaan tertentu.
contoh : Kamu = "Miko"
Dumai
Juga sama dengan Bengkalis. Bahasa Melayu juga masih kental disini
bahkan di kota pelabuhan di pesisir timur Sumatea ini juga masih
terdapat perkampungan masyarakat melayu yang masih melestarikan tradisi
dan budayanya.
Di Dumai, bahasa melayu nya kayak melayu kepulauan dengan perubahan kata-kata tertentu pada kata sapaan
contoh : Kamu = "Mike"
Pelalawan
Di Pelalawan pernah terdapat kerajaan Pekantua dan Kerajaan Pelalawan.
Dua Kerajaan ini merupakan satu galur daripada kerajaan Melaka. Sehingga
bahasa melayu yang mirip dengan bahasa melaka juga berkembang disini.
Namun bahasa dan tradisi di Pelalawan juga turut di pengaruhi oleh
tradisi dan budaya dari ranah Kampar. Dan disini pula pertama kalinya
nenek moyang orang Kampar bermula merantau dari kampar ke Semenanjung
dan kembali lagi ke Kampar melalui Semenanjung Kampar di Pekantua.
Indragiri Hulu
Di Indragiri Hulu dahulunya merupakan bahagian negeri dari Kerajaan
Indragiri yang bermula dari Keritang Indragiri Hulu. Bahasa melayu Riau
yang kental dengan loghat dan dialeg yang mirip dengan bahasa melayu
Johor-Riau-Lingga masih lestari hingga saat ini. Jika anda pergi ke
Rengat ataupun sekitarnya ,dan menemukan anak-anak bermain bercengkrama
seperti halnya tokoh serial kartun Malaysia, Upin dan Ipin. Di Bahagian
Indragiri Hulu di pedalaman maka bahasa nya pun dipengaruhi oleh bahasa
Kuantan.
contoh :
Saya - saye - awak
kecil - kecik - kocik
kedai - kedai - kodai
Indragiri Hilir
Sama dengan Indragiri Hulu, Indragiri Hilir dan Indragiri Hulu
merupakan wilayah satu kesatuan di bawah kerajaan Idnragiri. bahasa
melayu riau yang kental namun juga dipengaruhi oleh bahasa Banjar,
khususnya di Tembilahan. Karena masyarakat perantau asal Banjar juga
banyak berada disini. Namun apabila anda ke Mandah ataupun ke pantai
solop bahasa melayu yang dipakai adalah standar bahasa melayu Riau
terutama di desa-desa yang masih teguh memegang adat dan tradisi budaya
nenek moyangnya.
Bahasa di Indragiri Hilir merupakan campuran antara komunitas banjar dengan melayu pesisir dan kepulauan.
Pekanbaru
Pekanbaru merupakan ibukota provinsi Riau. Jantung dari segala denyut
nadi perekonomian dan pemerintahan dari segala penjuru negeri. Tentulah
saat ini Pekanbaru berkembang menjadi kota besar yang pesat
perkembangannya. Tidak lagi kita temukan mayoritas masyarakat yang
berbahasa melayu disini. Seperti halnya kota-kota besar lainnya di
Indonesia, Pekanbaru merupakan kota yang masyarakatnya heterogen. Selain
daripada masyarakat Riau sendiri, Pekanbaru asli, juga ada masyarakat
minangkabau, jawa, batak, Medan, Sunda, Bugis, Banjar, Palembang, Aceh,
dan sebagainya.
Bahasa melayu Riau asli Pekanbaru juga masih ada meski Pekanbaru juga
diramaikan oleh bahasa-bahasa warga pendatang, karena pada hakikatnya
Pekanbaru zaman dulunya merupakan daerah kampung melayu yang didiami
penduduk melayu Siak yang sangat sedikit populasinya pada saat itu.
Seperti yang kita ketahui, Pekanbaru dahulunya adalah negeri bahagian
dari Kerajaan Siak, dan sebagai negeri pembatas antara Riau pesisir dan
Riau pedalaman sehinngga budaya tradisi Riau daratan bercampur baur
disini terlebih ketika bandar Pekan telah dibuka oleh Sultan Siak.
Karena dibawah naungan Kerajaan Siak kala itu yang memindahkan pusat
pemerintahannya di Senapelan , maka tentulah segala budaya,adat
istiadat, tradisi dan budaya Siak berkembang di Senapelan,Pekanbaru.
Betul, bahasa dan tradisi melayu di Pekanbaru yang ditutur oleh
penduduk asli Pekanbaru sangat mirip dengan bahasa asli Siak, Perawang,
dan Gasib.
Seperti : (pakai frasa paling gampang sejagat aja,,, "Kamu Hendak Pergi Ke mana?")
Bahasa melayu Pekanbaru : "Awak tuh nak pegi kemane?" atau "Awak nak pegi kemano?" atau bisa juga "Kau nak pegi kemana?"
Selain bahasa melayu Pekanbaru, juga banyak terdapat bahasa melayu
Kampar, karena Pekanbaru juga merupakan daerah yang sangat dekat dan
dikelilingi oleh daerah Kampar ,sehingga perpaduan tradisi dan bahasa
itu juga berkembang terutama daerah-daeah Pekanbaru di kawasan daratan
atas, barat dan selatan.
Pekanbaru sekarang adalah kawasan urban seperti halnya dengan kota-kota
besar yang lain, penduduknyapun heterogen. Di situ memang bilangan
orang Melayu nya udah OUTNUMBER. Kalau mau mendengar dialek asli melayu
di Pekanbaru, komunitasnya terlalu terbatas ke perkampungan tertentu di
pinggir sungai (dan tentu saja kantor2 pemerintahan).
Dialek Riau Pedalaman
KAMPAR , ROKAN HULU , KUANTAN SINGINGI
Sekilah sejarah , di Rokan Hulu terdapat kerajaan Rokan, Di Kampar
terdapat kerajaan Kampar, Kuntu Darussalam, Kerajaan Gunung Sahilan. Di
Kuatan juga terdapat kerajaan Kuantan.
Kawasan Riau bahagian Hulu atau Riau pedalaman meliputi Kampar, Rokan
Hulu, dan Kuantan Singingi. Bahasa Riau pedalaman ini, merupakan bahasa
asli melayu Sumatera dan mirip dengan dialek minangkabau.
Secara adat juga mirip dengan minangkabau. Namun bisa dikatakan pula
bahwsannya daerah-daerah ini adalah daerah dengan bahasa dan adat asli
melayu darat di Sumatera.
Dan untuk diketahui juga bahasa melayu di Riau pedalaman juga mirip
dengan bahasa melayu di Negeri Sembilan dan Pahang. Bahkan nenek moyang
atau tetua masyarakat di Negeri Sembilan, Pahang, Kuantan, Perak di
Malaysia selain berasal dari minangkabau, mereka juga ada yg berasal
dari atau perantau-perantau atau masyarakat dari Kampar, Kuantan dan
Rokan Hulu. Paling banyak adalah perantau dari Kampar.
Namun sangat berbeda dengan bahasa minangkabau sesungguhnya.Bahkan bila
kita tarik lagi lebih ke dalam lagi hingga ke daerah Pangkalan di
perbatasan Riau-Sumbar juga hampir sama dialeknya dengan masyarakat
Kampar. Disana masyarakatnya juga lebih condong ke Pekanbaru.
Namun, bila kita lebih menulusuri lebih dalam ke ranah Kampar,Kuantan
dan Rokan Hulu, ternyata di setiap desa atau kampung masih terdapat
perbedaan bahasa-bahasa di negeri itu sendiri. Di Kuantan, misalnya, di
setiap kampung itu berbeda bahasanya.
Kampar
Kampar sangat identik dengan sebutan Kampar Limo Koto. Limo Koto
terdiri dari Kuok, Bangkinang, Air Tiris, Salo, dan Rumbio. Terdapat
banyakpersukuan yang masih dilestarikan hingga kini. Sangat penting
rasanya anak kemenakan mendapat penjelaskan posisi adat kampar sebagai
sebuah budaya asli masyarakat kampar bukan saduran dari minangkabau .
Karena budaya suku turun ke ibu adalah produk hindu..bukan produk
minang, ungkap situs-situs sejarah yang menjadi jati diri suku ocu.
Dijelaskan bahwa minanga tamwan dalam prasasti kedukan bukit bukan
berarti minang, tapi pertemuan dua sungai kampar kanan dan kiri yang
menjadi pusat kerajaan sriwijaya, masyarakat kampar harus tahu
bahwasanya pagaruyung adalah kerjaan yang jauh lebih muda (zaman maja
pahit) dan bukan pusat budaya Kampar.
Kaji dan analisis dua keterangan sejarah melalui BAKABA TAMBO ADAT
MINANG KABAU dan buat perbandingan dengan kajian SULALAT AL-TSALATSIN,
itu jati diri suku ocu.
Bahasa yang dipakai di Limo Koto, yang juga kemudian menjadi bahasa
Kampar adalah bahasa Ocu. Di samping itu, Limo Koto juga memiliki
semacam alat musik tradisional Calempong dan Oguong.
Di samping julukan BUMI SARIMADU kabupaten Kampar juga terkenal dengan
julukan SERAMBI MEKKAH di propinsi Riau,ini disebabkan masyarakatnya
yang 100% beragama Islam (etnis ocu),demikian juga dengan pakaian yang
sehari-hari yang dipakai bernuansa melayu muslim.
Masyarakatnya sendiri merupakan masyarakat dari suku Ocu yang merupakan
salah satu bagian dari suku yang ada dalam imperium Melayu Riau, Suku
Ocu mempunyai ciri dan kateristik yang khas. Bahasa Ocu juga menjadi
bahasa sehari hari, dalam kosa katanya banyak kemiripan dengan bahasa
Minang Sumatra Barat namun dalam vocal dan dialek sangat kental dengan
Melayu lagi lagi ini menjadikan bahasa Ocu khas.
Selain mengikuti pemerintahan yang ada, masyarakat Kampar juga patuh
dan diatur oleh sistim pemerintahan adat yang diatur dalam kelembagaan
adat mulai dari tingkat kampuong, nagohi (negeri) hingga koto dan Andiko
44 sebagai federasi yang memerintah Kampar secara keseluruhan, dan
perangkat pemerintahan ini disebut dengan Ninik Mamak yang dipimpin oleh
Penghulu.
contoh :
saya - awak - deyen
anda - kau
pergi - poyi
pekan - pokan
kecil - kocik
kedai - kodai
mau - mo
abang - Ochu atau abang
kakak - kakak
abang lelaki tertua - onshu
Kuantan Singingi
Menurut sejarah, daerah ini dikenal dengan sebutan Rantau Nan Kurang
Oso Duo Pulua”, artinya negeri tempat perantauan yang mempunyai sembilan
belas koto (negeri) atau dua puluh kurang satu koto. Daerah Kuantan
pada bagian barat (hulu) berbatasan dengan Provinsi Sumatera barat, pada
bagian timur (hilir) berbatasan dengan Desa Batu Sawa, pada bagian
selatan berbatasan dengan Provinsi Jambi, dan bagian utara berbatasan
dengan Kabupaten Kampar.
Bahasa Kuantan namanya. Dan sukunya disebut Melayu Kuantan dan beradat juga dekat ke minangkabau.
Di Kuantan Singingi bahasa Kuantan boleh jadi berbeda dialek antara
tiap-tiap desa. Bahasa dan dialek Kuantan mirip dengan bahasa minang
Harap dipahami bahwa adat-budaya di Kuansing itu merupakan perbancuhan
dari pengaruh Datuk Perbatih dengan Datuk Tumenggung. Kerajaan Kuantan
ada pada abad ke-7 Masehi sedangkan Pagaruyung antara abad ke13 dan 14.
Jadi, tak bisa disimpulkan secara sempit bahwa adat-budaya Kuansing itu
berasal dari Minangkabaiu dan sebagainya. Dan arsitektur digambar ini
merupakan 100% Minang, karena merupakan tempat tinggal Keluarga Raja
Pagaruyung
Ada juga di beberapa daerah Kuantan yang berbatasan dengan daerah
Indragiri juga ada mix bahasa Kuantan dan bahasa melayu Indragiri.
Bahasa Kuantan , misalnya :
hampir sama dengan bahasa Kampar, ada pula tata ucap seperti ini :
"Kamu Hendak Pergi Ke mana?" - "Kau Nak Poii Ka Mano?"
Jalur, disebut "Jalu" atau "Jalue"
Teluk, disebut "Taluk" dan "Toluk"
Rokan Hulu
Di Pasirpengaraian dan Dalu-dalu saja (bukan yang Ujungbatu ), tidak
akan ada orang Melayu Rohul (yang mengamalkan sistem patrialisme) mau
dibilang bahasanya mirip bahasa Minang. Kalau pun harus mengalah pada
akulturasi, memang betul bahasa Melayu Rohul itu "mix 3 bahasa" antara
Mandailing, Melayu, dan Minang. Bahkan orang Mandailing pun banyak yang
lebih mengakui diri mereka sebagai melayu ketimbang batak. Contohnya
saja Soeman Hasibuan mengaku kalau dirinya seorang melayu.
kesimpulan (pakai frasa paling gampang sejagat aja,,, "Kamu Hendak Pergi Ke mana?")
ROKAN dan KAMPAR : "Awak Nak Poii Ka Mano?" atau "Kau Nak Poii Ka Mano"
Panggilan sapaan :
Saya ,disebut "awak" atau "ambo"
Panggilan abang , disebut "abang" , "Ochu" , atau "Udo"
panggilan kakak , disebut "kakak" namun ada juga yang memanggil dengan "uni"
Panggilan adik, "adek" , "adiak".
Di Rokan Hulu,
Saya = "Aku"
Istilah "pemanis kata" seperti "Ojeee", "Ondee", dan "do" jg sering dipakai..
Dan walaupun mirip bahasa minang, daerah ini tidak menggunakan kata "Ciek" untuk mengacu angka "Satu".
Orang (dalam melayu : oghang) = "Ughang"
Pasar = "Pokan"
Kedai = "Kodai"
"Tak Ada"
Rokan Hulu : Indoww laiii / indak laiii (Lai di baca panjang di vokal "iii" )
Kampar dan Kuantan : Indak ado
Namun secara adat upacara , semisal kalau perkawinan memakai pantun adat berbahasa Melayu Pesisir ... Yang logat "e" lemah itu.
Perbedaan bahasa melayu di Riau daratan batasnya di Pekanbaru. Disini semua tercampur.
Anggap lah siak, dumai, bengkalis, kepulauan mempunyai dialek yang sama.
sedangkan untuk Kampar Raya kebanyakan berbahasa "ocu"..
kenapa bahasa melayu Riau pedalaman(Kampar, Rohul, Kuansing) dibilang mirip bahasa minang?
jawabannya simpel aja. karena telinga orang melayu pesisir dan
kepulauan mendengar bahasa orang Riau Pedalaman sangat mirip dengan
bahasa minang.
Saya ketika pertama kali mendengar juga berpikir seperti itu, setelah
punya temen banyak orang Kampar, Kuansing,dan Rohul dan sedikit bisa
bahasa itu baru saya mengerti perbedaannya.
kasus ini sama halnya kalo kita berbahasa melayu di jawa.. akan
dianggap berbahasa minang karena memakai akhiran "o". karena itu asing
ditelinga mereka.
walaupun ga semua yang memakai akhiran "o" itu orang minang.
Bangga Berbahasa Melayu
Selasa, 31 Juli 2018
Asas dan Jatidiri Melayu Kelas XII
1.
nilai lapang Dada terbuka tangan
Sifat pemaaf dan
pemurah, orang tua-tua mengatakan: “tanda Melayu berdada lapang, ikhlas
memaafkan kesalahan orang, tolong menolong
tiada kurang, bercakap sama muka belakang, bertindak suka berterang-terang”.
Orang tua-tua selalu
mengingatkan agar menjauhi sifat yang
suka berdendam kesumat, sebagaimana
dikatakan “apabila hidup dendam- mendendam, ke darat sesat ke
laut
karam”; atau dikatakan: “apabila hidup
berdendam kesumat, kemana pergi takkan selamat”.
kesusahan orang ia rasakan
dendam kesumat ia jauhkan
sifat orang berdada lapang
tahu merasa bijak menenggang
tahu menjaga aib malu orang tahu
menghapus muka berarang
sifat orang terbuka tangan
cepat kaki ringan tangan
tahu menolong orang berbeban
bijak membantu dalam kesempitan
2.
nilai tahu Menyemak Pandai Menyimpai
Nilai yang penuh
kearifan, bijaksana, tanggap dan cekatan
dalam menilai sesuatu dan memutuskan sesuatu. Sifat yang piawai ini menjadikan
dirinya mampu menyemak perkembangan
masyarakat dan perubahan zamannya,
mampu mengambil kebijakan yang
tepat dan bermanfaat, mampu menyelesaikan permasalahan, dan sebagainya.
Di dalam ungkapan disebutkan:
arif menyemak kicau murai
arif menapis angin lalu
arif mendengar desau daun
arif menilik bintang di langit
arif menangkap kerlingan orang
bijak menepis mata pedang
bijak membuka simpul mati
pandai mengurung dengan lidah
pandai mengandang dengan cakap
pandai mengungkung dengan syarak
pandai menyimpai dengan adat
pandai mengikat dengan
lembaga
cepat akal laju pikiran
cepat angan laju buatan
tajam mata jauh pandangan
nyaring telinga luas pendengaran
3.
nilai Bercakap Bersetinah, Berunding Bersetabik
Nilai ini mengajarkan
orang untuk tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kesantunan,
berperilaku sopan, tertib dan pekerti
mulia. Nilai ini juga mengajarkan agar memelihara lidah, menjaga
tingkah laku, menjauhkan sifat kasar langgar, memantangkan
mencaci orang, berlagak kuasa dan
sombong, merendahkan orang lain,
mau menang
sendiri, besar kepala, angkuh dan sebagainya.
Nilai ini tentulah sangat bermanfaat dalam membentuk kehidupan yang
tertib, aman dan damai,
amat berfaedah dalam mewujudkan masyarakat yang saling hormat-menghormati, saling harga-menghargai,
saling tahu diri dan saling memelihara
diri
Ungkapan adat mengatakan:
Apa tanda orang beradat
elok perangai sempurna sifat
Apa tanda orang terpandang
bercakap tidak menista orang
Apa tanda orang bermaruah
kalau berbicara tidak menyalah
Apa tanda orang berakal
dalam berbual tidak membual
Ungkapan lain menyebutkan:
Apa tanda orang beriman
perangainya elok berbicaranya sopan
Apa tanda orang terpuji
ercakap tidak keji-mengeji
Apa tanda orang bertuah
menyanggah tidak sumpah-menyumpah
Di dalam tunjak ajar dikatakan pula:
Apabila hendak rukun dan damai
elokkan laku baikkan perangai
Apabila perilaku bersopan santun
negeri aman hidup pun rukun
atau dikatakan:
Apabila hidup tahukan diri
maruah tegak tuah berdiri
Apabila negeri hendak sentosa
elokkan dulu budi bahasa
Budaya Melayu, dan kita
yakini pula semua budaya suku,
puak dan etnis lainnya tentulah menjunjung
tinggi nilai-nilai etika, nilai kesantunan
baik dalam berbicara bergaul
dan sebagainya.
Kesantunan itu sudah menjadi bahagian yang
tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat,
dan sangat diutamakan
dalam ajaran agama-agama di muka bumi ini.
4.
nilai Menang dalam kalah
Nilai piawai dalam bersiasat,
mahir dalam menyusun strategi, sabar
dan teliti dalam mencari
peluang, unggul dalam berunding, berhemat cermat dalam mengambil keputusan,
teliti dalam mengambil kebajikan, berdada lapang dan berpandangan luas dalam menyelesaikan masalah, dan
memandang sesuatu dengan hari nurani yang jernih, dan sebagainya. Nilai ini juga mengajarkan
untuk bersikap lapang dada, sabar
dan mengalah
dalam batas-batas tertentu untuk mencapai kejayaan dan tujuannya.
Di dalam ungkapan disebutkan:
yang menang dalam
kalah yang lapang dalam sempit yang kaya dalam susah
lapang dada luas hati
lapangnya tidak berhempang
luasnya tidak berbatas
dalamnya tidak terukur
kayanya tidak tersukat
beratnya tidak tertimbang
cerdik menjadi penyambung lidah
berani menjadi pelapis dada
kuatnya menjadi tiang sendi
kerasnya tidak tertakik
lembutnya tidak tersudu
lemahnya tidak tercapak
kendurnya berdenting-denting
tegangnya berjela-jela
5.
nilai tahu hidup Meninggalkan, tahu Mati Mewariskan
Nilai
yang menyedarkan orang untuk berkarya,
berbuat kebajikan, berbuat budi dan jasa selama hidupnya, serta mewariskan nilai-nilai luhur agama dan budaya, mewariskan karya dan jasa,
mewariskan nama baik, mewariskan keteladanan dan perilaku terpuji dan
sebagainya, yang memberi faedah dan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat, bangsa dan
negaranya.
Di dalam ungkapan disebutkan:
yang disebut hidup meninggalkan
meninggalkan syarak tempat berpijak meninggalkan adat tempat menepat
meninggalkan lembaga tempat berjaga meninggalkan budi yang terpuji
meninggalkan contoh yang senonoh meninggalkan teladan yang sepadan
meninggalkan nama yang mulia meninggalkan petuah yang berfaedah
meninggalkan kaji yang berisi meninggalkan pusaka yang berharga
meninggalkan anak yang dipinak meninggalkan harta yang berguna
meninggalkan dunia dengan bekalnya
6.
nilai lasak Mengekas, tekun Mengais
Nilai lasak dalam
berusaha, tekun dalam bekerja keras,
cerdas dalam mencari peluang hidup, bersemangat
dalam berkarya, aktif dan rajin
menciptakan peluang kerja untuk
memenuhi semua keperluan hidup diri,
keluarga, masyarakat dan bangsanya.
Orang tua-tua mengatakan, bahawa sifat ini adalah cerminan dari
rasa kemandirian dalam menghadapi hari depannya agar dapat “duduk
sama rendah dan tegak sama
tinggi” dengan masyarakat atau bangsa lainnya,
serta melepaskan dirinya dari sifat
ketergantungan kepada orang lain.
Di dalam ungkapan dikatakan:
lasak mengekas takkan melengas
tekun mengais rezeki tak habis
rajin bekerja takkan terhina
mau bersusah hidup menakah
mau berpenat hidup selamat
mau berlenjin hidup terjamin
dalam bersusah banyak faedah
dalam berpenat banyak yang dapat
dalam berletih banyak yang boleh
dalam bekerja banyaklah jasa
7.
nilai tahu harta Berpunya,
tahu Pinjam Memulangkan
Nilai yang
menghormati, menghargai,
dan memelihara hak-hak
orang lain, dan bertanggungjawab atas
hak orang
lain yang dipakainya atau
dipinjamnya atau dipercayakan kepadanya.
Di dalam ungkapan dikatakan:
adat hak ada berpunya
adat menjemput menghantarkan
adat meminjam memulangkan
adat mengantar sampai-sampai
adat memulangkan elok-elok
hak orang sama dipandang
hak orang sama dijaga
milik orang sama dipelihara
yang pinjam sepanjang boleh
yang memulangkan sebelum sudah
1.
nilai lapang Dada terbuka tangan
Sifat pemaaf dan
pemurah, orang tua-tua mengatakan: “tanda Melayu berdada lapang, ikhlas
memaafkan kesalahan orang, tolong menolong
tiada kurang, bercakap sama muka belakang, bertindak suka berterang-terang”.
Orang tua-tua selalu
mengingatkan agar menjauhi sifat yang
suka berdendam kesumat, sebagaimana
dikatakan “apabila hidup dendam- mendendam, ke darat sesat ke
laut
karam”; atau dikatakan: “apabila hidup
berdendam kesumat, kemana pergi takkan selamat”.
kesusahan orang ia rasakan
dendam kesumat ia jauhkan
sifat orang berdada lapang
tahu merasa bijak menenggang
tahu menjaga aib malu orang tahu
menghapus muka berarang
sifat orang terbuka tangan
cepat kaki ringan tangan
tahu menolong orang berbeban
bijak membantu dalam kesempitan
2.
nilai tahu Menyemak Pandai Menyimpai
Nilai yang penuh
kearifan, bijaksana, tanggap dan cekatan
dalam menilai sesuatu dan memutuskan sesuatu. Sifat yang piawai ini menjadikan
dirinya mampu menyemak perkembangan
masyarakat dan perubahan zamannya,
mampu mengambil kebijakan yang
tepat dan bermanfaat, mampu menyelesaikan permasalahan, dan sebagainya.
Di dalam ungkapan disebutkan:
arif menyemak kicau murai
arif menapis angin lalu
arif mendengar desau daun arif menilik bintang di langit
arif menangkap kerlingan orang
bijak menepis mata pedang
bijak membuka simpul mati
pandai mengurung dengan lidah
pandai mengandang dengan cakap pandai mengungkung dengan syarak
pandai menyimpai dengan adat pandai mengikat dengan
lembaga
cepat akal laju pikiran
cepat angan laju buatan tajam mata jauh pandangan
nyaring telinga luas pendengaran
3.
nilai Bercakap Bersetinah, Berunding Bersetabik
Nilai ini mengajarkan
orang untuk tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kesantunan,
berperilaku sopan, tertib dan pekerti
mulia. Nilai ini juga mengajarkan agar memelihara lidah, menjaga
tingkah laku, menjauhkan sifat kasar langgar, memantangkan
mencaci orang, berlagak kuasa dan
sombong, merendahkan orang lain,
mau menang
sendiri, besar kepala, angkuh dan sebagainya.
Nilai ini tentulah sangat bermanfaat dalam membentuk kehidupan yang
tertib, aman dan damai,
amat berfaedah dalam mewujudkan masyarakat yang saling hormat-menghormati, saling harga-menghargai,
saling tahu diri dan saling memelihara
diri
Ungkapan adat mengatakan:
Apa tanda orang beradat
elok perangai sempurna sifat
Apa tanda orang terpandang
bercakap tidak menista orang
Apa tanda orang bermaruah
kalau berbicara tidak menyalah
Apa tanda orang berakal
dalam berbual tidak membual
Ungkapan lain menyebutkan: Apa tanda orang beriman
perangainya elok berbicaranya sopan
Apa tanda orang terpuji
bercakap tidak keji-mengeji
Apa tanda orang bertuah
menyanggah tidak sumpah-menyumpah
Di dalam tunjak ajar dikatakan pula:
Apabila hendak rukun dan damai
elokkan laku baikkan perangai
Apabila perilaku bersopan santun
negeri aman hidup pun rukun
atau dikatakan:
Apabila hidup tahukan diri
maruah tegak tuah berdiri
Apabila negeri hendak sentosa
elokkan dulu budi bahasa
Budaya Melayu, dan kita
yakini pula semua budaya suku,
puak dan etnis lainnya tentulah menjunjung
tinggi nilai-nilai etika, nilai kesantunan
baik dalam berbicara bergaul
dan sebagainya.
Kesantunan itu sudah menjadi bahagian yang
tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat,
dan sangat diutamakan
dalam ajaran agama-agama di muka bumi ini.
4.
nilai Menang dalam kalah
Nilai piawai dalam bersiasat,
mahir dalam menyusun strategi, sabar
dan teliti dalam mencari
peluang, unggul dalam berunding, berhemat cermat dalam mengambil keputusan,
teliti dalam mengambil kebajikan, berdada lapang dan berpandangan luas dalam menyelesaikan masalah, dan
memandang sesuatu dengan hari nurani yang jernih, dan sebagainya. Nilai ini juga mengajarkan
untuk bersikap lapang dada, sabar
dan mengalah
dalam batas-batas tertentu untuk mencapai kejayaan dan tujuannya.
Di dalam ungkapan disebutkan:
yang menang dalam
kalah yang lapang dalam sempit yang kaya dalam susah
lapang dada luas hati
lapangnya tidak berhempang luasnya tidak berbatas
dalamnya tidak terukur kayanya tidak tersukat
beratnya tidak tertimbang
cerdik menjadi penyambung lidah
berani menjadi pelapis dada kuatnya menjadi tiang sendi
kerasnya tidak tertakik
lembutnya tidak tersudu lemahnya tidak tercapak
kendurnya berdenting-denting tegangnya berjela-jela
5.
nilai tahu hidup Meninggalkan, tahu Mati Mewariskan
Nilai
yang menyedarkan orang untuk berkarya,
berbuat kebajikan, berbuat budi dan jasa selama hidupnya, serta mewariskan nilai-nilai luhur agama dan budaya, mewariskan karya dan jasa,
mewariskan nama baik, mewariskan keteladanan dan perilaku terpuji dan
sebagainya, yang memberi faedah dan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat, bangsa dan
negaranya.
Di dalam ungkapan disebutkan:
yang disebut hidup meninggalkan
meninggalkan syarak tempat berpijak meninggalkan adat tempat menepat
meninggalkan lembaga tempat berjaga meninggalkan budi yang terpuji
meninggalkan contoh yang senonoh meninggalkan teladan yang sepadan
meninggalkan nama yang mulia meninggalkan petuah yang berfaedah
meninggalkan kaji yang berisi meninggalkan pusaka yang berharga
meninggalkan anak yang dipinak meninggalkan harta yang berguna
meninggalkan dunia dengan bekalnya
6.
nilai lasak Mengekas, tekun Mengais
Nilai lasak dalam
berusaha, tekun dalam bekerja keras,
cerdas dalam mencari peluang hidup, bersemangat
dalam berkarya, aktif dan rajin
menciptakan peluang kerja untuk
memenuhi semua keperluan hidup diri,
keluarga, masyarakat dan bangsanya.
Orang tua-tua mengatakan, bahawa sifat ini adalah cerminan dari
rasa kemandirian dalam menghadapi hari depannya agar dapat “duduk
sama rendah dan tegak sama
tinggi” dengan masyarakat atau bangsa lainnya,
serta melepaskan dirinya dari sifat
ketergantungan kepada orang lain.
Di dalam ungkapan dikatakan:
lasak mengekas takkan melengas
tekun mengais rezeki tak habis rajin bekerja takkan terhina
mau bersusah hidup menakah
mau berpenat hidup selamat mau
berlenjin hidup terjamin
dalam bersusah banyak faedah
dalam berpenat banyak yang dapat
dalam berletih banyak yang boleh
dalam bekerja banyaklah jasa
7.
nilai tahu harta Berpunya,
tahu Pinjam Memulangkan
Nilai yang
menghormati, menghargai,
dan memelihara hak-hak
orang lain, dan bertanggungjawab atas
hak orang
lain yang dipakainya atau
dipinjamnya atau dipercayakan kepadanya.
Di dalam ungkapan dikatakan:
adat hak ada berpunya
adat menjemput menghantarkan
adat meminjam memulangkan adat mengantar sampai-sampai
adat memulangkan elok-elok
hak orang sama dipandang
hak orang sama dijaga
milik orang sama dipelihara
yang pinjam sepanjang boleh
yang memulangkan sebelum sudah
kesiMPulan
Kita meyakini bahawa setiap
suku dan puak bangsa Indonesia
pastilah memiliki nilai-nilai asas budaya dan adat
istiadatnya, yang turun-temurun mereka jadikan acuan dan jati dirinya, dan kita yakin, nilai-nilai dimaksud
mengandung tunjuk ajar dan petuah amanah yang dapat dijadikan
simpai
pemersatu bangsa, serta
mampu mewujudkan kehidupan yang aman,
damai dan sejahtera.
Kerananya, dengan beranjak dari nilai-nilai luhur dan
kearifan yang piawai itu
bangsa kita akan menjadi bangsa
yang beradab, menjadi bangsa yang
bertamadun tinggi, yang
mampu mengekalkan kehidupan sejahtera lahiriah dan batiniahnya.
Dari sisi lain, pembangunan
yang
berlandaskan budaya
sendiri, akan dapat mewujudkan
pembangunan yang berjati diri bangsa
yang memancarkan nilai-nilai budaya bangsa dalam keberagaman,
yang mencerminkan jati diri
yang kokoh, mampu menghadapi cabaran serta memberikan
manfaat yang sebesar-besarnya bagi
seluruh rakyat. Dari sanalah kita memperlihatkan kepada
dunia luar, bahawa perbezaan
suku, puak, agama dan kepercayaan tidaklah menyebabkan perpecahan, tetapi sebaliknya menjadi
modal utama dalam membangun kehidupan
yang bermartabat, bermaruah, terbilang dan cemerlang.
Wallahu a’lam.
Tumbuh rumput di tepi pagar,
Akar benalu menjalar juga;
Tujuh laut boleh terbakar,
Kapal Melayu berlayar juga.
Bila bergalah sama dimudiki;
Mana yang elok bawalah pulang,
Apabila menyalah kita perbaiki
Langganan:
Postingan (Atom)
Peralatan Nelayan Melayu Riau
Jala Terbuat dari jaring yang diberi pemberat. cara menggunakan dengan cara ditebarkan ke dalam air dan dibiarkan beberap...
-
Jala Terbuat dari jaring yang diberi pemberat. cara menggunakan dengan cara ditebarkan ke dalam air dan dibiarkan beberap...
-
1. Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad atau lebih dikenal Raja Ali Haji lahir pada 1809 di Pulau Penyengat, Riau. Namun, ia sejatinya ket...
-
HOAKS DAN KEPRIBADIAN MUKMIN Perkembangan zaman adalah satu keadaan yang tidak dapat dihindari oleh setiap manusia dalam menjalani ...